YOGYAKARTA. suaramuhammadiyah.id-Indonesia saat ini berada di tangan para pelajar dan generasi muda. Namun, secara bersamaan mereka pun sangat rentan untuk dijadikan sasaran radikalisasi oleh pelaku terorisme. Mereka yang berada di usia belia itu sangat mudah untuk dipangaruhi oleh doktrin terkait konsep jihad yang justru mencederai bangsa sendiri. Ditambah lagi dengan pemahaman agama anak muda yang kebanyakan masih tergolong minim.
Demikian dituturkan Buya Syafii Ma’arif dalam dialog pencegahan paham radikal terorisme dan ISIS bersama Muhammadiyah di DIY dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada Kamis, (28/7) di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Guru dikenal dikenal sebagai profesi seseorang di sekolah yang bertugas mengajar anak-anak. Tetapi pada hakikatnya semua manusia merupakan seorang guru apabila ia dapat mengajarkan sesuatu yang bermanfaaat kepada orang lain. Tentulah salah satu peran guru berada pada orang tua. Tugas orang tua sebagai guru bersifat alami dan natural. Hal inilah yang akan membentuk bagaimana karakter seorang anak nantinya. Maka sangat penting bagi orang tua untuk memahami pendidikan karakter untuk anak.
Pendidikan karakter adalah pendidikan dalam membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya (Thomas Lickona, 1991).