Home Karya Siswa

Pendidikan agama Islam adalah salah satu pelajaran yang paling penting bagi seorang murid untuk dipelajari di sekolah maupun di rumah. Cara penyampaian pendidikan ini sering menjadi masalah tersendiri untuk seorang guru ataupun orang tua, yang sedang mengajari anak-anaknya, atau bahkan remaja. Penulis disini akan membahas permasalahan tersebut, tapi tenang saja, saya gak bakal ‘ceramah’ kok, hehee.

            Seringkali dijumpai orang-orang yang terlihat bermasalah dengan perilaku anak-anak atau remaja yang bersikap menolak ajaran agama. Mereka seringkali terlihat tidak peduli dengan hal-hal yang seperti ‘itu’. Dan setiap permasalahan dan penolakan pasti ada sebabnya.

            Menurut pemantauan seorang murid SMP di sekolahnya sendiri, guru di sekolahnya mengajarkan agama dengan cara yang ‘memaksa’. Tapi murid-murid disitu malah tidak terlihat keberatan dengan metode guru tersebut.

            Menurut pengamatan seorang murid, di saat ada acara yang diperuntukkan untuk menguatkan iman murid, Seorang murid mengkritik acara tersebut karena tidak sesuai. Karena menurutnya, acara keagamaan itu seharusnya dibuat santai supaya seorang murid dapat menerima dengan baik. Bukannya malah menunjukkan video tentang siksa kubur atau video rekaman bawah tanah.

            Seorang murid, apabila diajari agama dengan cara ‘keras’ dan mengancam seperti yang disebutkan tadi, seorang murid akan menganggap agama sebagai beban, bukan suatu kewajiban yang harus dianut. Seorang murid akan merasa terintimidasi dan hidupnya terkekang akan norma dan agama, sehingga timbul keinginan murtad.

            Menunjukkan video ‘tersebut’ juga menyebabkan mental seorang anak menjadi turun. Apabila anak yang ditunjukkan video tersebut pada dasarnya baik, hal ini justru dapat menyebabkan perasaan bersalah terus menerus dan depresi karena trauma akan apa yang telah dilihatnya. Tetapi, apabila anak yang ditunjukkan video tersebut pada dasarnya ‘jelek’, akan timbul kemungkinan bahwa anak itu hanya bertaubat untuk sementara, dan malah memakai ‘bayangan’ dari yang dilihatnya sebagai media untuk menakut-nakuti.

            Pengajaran agama sebaiknya jangan dibuat terlalu kaku, karena hal ini justru akan menimbulkan sikap meremehkan pada seorang murid. Pendidikan agama juga sebaiknya dibuat lebih fleksibel, atau membiarkan murid mencari jawabannya sendiri dengan cara menjadikan guru sebagai media yang membantu, bukan media yang memberi tahu.

            Ketergantungan murid pada guru juga akan terlihat apabila seorang guru cara mengajarnya salah. Contohnya, ketika membahas soal, seorang guru hanya menulis alfabetnya saja dan tidak dibahas kenapa jawabannya bis a, atau b, dan seterusnya. Ini juga meyebabkan seorang murid malas bertanya.

            Adapun seorang guru yang melarang muridnya bertanya. Ini akan menyebabkan seorang murid melakukan sesuatu yang terlalu ‘berani’ hanya karena dilarang bertanya. Seorang murid yang tidak mendapat jawaban pun akan mencoba mencari jawaban sendiri. Seperti yang disebutkan tadi, guru yang perannya seharusnya menjadi ‘tutor’ yang membimbing murid mencari jawaban, kehilangan fungsinya dan murid, yang tidak tahu ilmunya, lalu berbuat seenaknya.

            Ada suatu ayat di dalam surat al-Baqarah yang saya lupa ayatnya yang menyebutkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh terlalu tekstual dalam beragama Islam. Apabila seorang murid diajarkan seorang guru tentang Al Qur’an secara tekstual, seorang murid akan terlalu bergantung kepada Al Qur’an dan akan jarang dalam berpikir akan hal-hal yang bersangkutan dengan agama ataupun ada murid yang sedang berbicara kepada guru. Misalnya, jika murid itu berbeda pendapat tentang agama, lalu berniat membicarakannya kepada gurunya, dan guru itu hanya menjawab “Karena memang seperti itu” ketika ditanya alasannya kenapa. Lalu guru itu merasa di-debati, sehingga guru itu akan langsung mengambil Al Qur’an dan mengartikan ayatnya secara tekstual untuk membungkam murid tersebut. Hal ini juga memicu emosi seorang murid karena terlalu terkekang oleh agama tadi. Ini disebut juga sebagai argumentum ad hominem.

            Tetapi, agama itu sebenarnya bukan sesuatu yang memaksa. Memaksa atau tidaknya itu tergantung dari cara seorang ‘guru’ untuk menyampaikannya, sehingga sering di-salah-artikan.

            Faktor orangtua juga sering menjadi alasan timbulnya anak menjadi bungkam soal agama. Apabila seorang murid bertanya, misalnya tentang hal yang ia ketahui, lalu, orangtua malah menjawab bahwa itu haram dan melarangnya mengulang pertanyaan yang sama. Ataupun anak yang tidak tahu dan mengikuti ajaran agama lain dengan maksud bermain-main saja, ataupun bertanya tentang agama selain islam, orangtuanya mengatai anaknya sendiri kafir.

            Ini yang bahaya, karena akan menyebabkan anak tersebut merasa ‘masa bodoh’ dengan orang tua dan tidak berbakti, hanya karena orangtua yang selalu memarahi anaknya karena pertanyaan-pertanyaannya.“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)

Sungguh beruntung untuk kaum yang mau berpikir....

 


By: Sarah Hawun Ratuharati

Siswi SMP Muhammadiyah 5 Surabaya 9F

 

Statistik Pengunjung

Today14
Yesterday191
This week413
This month2793
Total347535

Visitor IP : 54.227.127.109 Visitor Info : Unknown - Unknown Rabu, 13 Desember 2017 01:16