Home Berita warta Sekolah Pagi Buta Tamu Itu Datang Sekadar Bertukar Pengalaman

Pagi buta para guru SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya menyambut kedatangan 90 siswa, 20-an guru SMP Muhammadiyah Plus Salatiga, dan pengurus PDM setempat Selasa (24/7/2018).

Mereka naik tiga bus dan satu mobil tiba pukul 03.00 dini hari di kampus Pucang Anom.  Datang untuk memulai program pertukaran pelajar antar sekolah Muhammadiyah. Satu per satu siswa turun dari bus disambut guru Spemma didampingi Kepala SMP Muhammadiyah Plus Salatiga Sutomo menyalami kedatangan mereka  di depan lobi sekolah.

 

Sebelum acara dimulai mereka  istirahat sejenak di guest house SD Muhammadiyah 4 dan SMA Muhammadiyah 2 yang berada satu kompleks.  Usai Subuh dan mandi acara dilanjutkan sarapan bersama di kantin Spemma. Kemudian  shalat Dhuha disambung mengaji per kelompok bersama siswa-siswi Spemma kelas VII.

Di ruang lain pimpinan Spemma, Kepala SMP Muhammadiyah Plus Salatiga, dan PDM bertemu untuk sharing sistem pendidikan. ”Kegiatan ini rutin dilakukan setiap setahun sekali untuk para siswa baru agar mereka termotivasi belajar di luar lingkup sekolah Muhammadiyah area Salatiga,” kata Sutomo.

Siswa dua sekolah ini menampilkan tukar budaya daerah masing-masing yang disuguhkan dalam kolaborasi seni.  Siswa Spemma menampilkan bela diri Tapak Suci dari siswa kelas VII, band, dan pantomim.  Ketika mengalun lagu dari Sabian, Din Salam, seluruh siswa turut bernyanyi bersama.

”Senang sekali rasanya bertemu dan belajar mengaji bersama dengan siswa-siswi Spemma,” ucap Najwa siswa SMP Muhammadiyah Plus Salatiga.

Sedangkan penampilan seni yang ditampilkan oleh siswa SMP Muhammadiyah Plus Salatiga berupa dalang dan dongeng. Pendalang cilik SMP Muhammadiyah Plus Salatiga mengisahkan tentang Semar dan Bagong yang berperan sebagai guru dan murid.

Gerak dan gaya pendalang cilik itu sangat ekspresif ketika bercerita mengenai peran guru yang wajib digugu dan ditiru dalam segala aspek. ”Guru haruslah bersabar dalam melaksanakan pembelajaran agar siswa tidak merasa terbebani dengan segala perilaku guru dan metode mengajar guru,” jelas Iwan, guru pendamping dalang cilik itu.

Setelah berfoto bersama, rombongan melanjutkan acara berkunjung ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember. (Firman)