Home Berita warta Sekolah Ringkasan Kajian Malam Minggu oleh Prof. Dr. Zainuddin Maliki

Pendidikan yang sebenar-benar pendidikan sulit sekali kita temui di negeri tercinta kita Indonesia. Kini kian langka pendidik yang sebenarnya mendidik, pelajar yang sebenarnya belajar, dan sekolah yang sebenarnya tempat belajar. Realita demikian pernah disindir oleh Agus S. Sarjono dalam puisinya berjudul Sajak Palsu, sekelumit cuplikan puisi indah menggoncang konsep pendidikan yang seolah-olah sudah mapan tersebut adalah:

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu.”.

Pendidik yang tidak sebenarnya mendidik adalah pendidik palsu. Pendidik palsu mengajar pelajar-pelajar palsu. Pelajar palsu mempelajari pelajaran-pelajaran palsu. Output jangka panjangnya adalah sarjana-sarjana palsu, ekonom palsu, politisi palsu, dan sosok-sosok serba palsu lainya. Inilah fakta pendidikan kita.

Pertanyaan menggelitik dari realita diatas, mengapa hal ini terjadi?. Jika kita mencoba membandingkan pendidikan di Negara kita dengan pendidikan di Negara lain yang lebih maju. Pendidikan di Indonesia masih bersifat behavioristik, tidak otentik, dan kurang mendalam. Terlalu behavioristik dan kurang konstruksivistik artinya pelajar mau belajar jika ada rangsangan dari luar, ada pengawas, guru hadir di dekatnya saat belajar. Tidak otentik misalnya belajar renang tapi tidak dikolam renang, belajar ilmu transaksi perbankan tapi dikelas, belajar praktik demokrasi tapi hanya teori saja, dsb. Tidak mendalam (deep) karena belajarnya hanya teori saja, sekedar tahu saja, karena targetnya nilai rapor bagus, nilai unas bagus, sudah cukup berhenti disitu saja. Padahal Deep learning menurut UNESCO adalah berdasarkan 4 aspek tahapan belajar yaitu Learn to KNOW, Learn to DO, Learn to BE, Learn to LIVE TOGETHER. Sementara pendidikan kita masih berhenti pada tahap Leran to KNOW saja. Jadi, kapan kita akan naik pada level Deep Learning sampai pada Learn to LIVE TOGETHER.

Pernyataan Emerson Davies (1939) menarik untuk disimak, “kemakmuran suatu bangsa terletak pada jumlah pikiran terdidik dan moral yang tinggi”. Kemajuan suatu bangsa bukan ditentukan oleh seberapa banyak populasi penduduknya atau seberapa luas area geografisnya. Artinya kemajuan bangsa mutlak bergantung pada kualitas pendidikan pada bangsa tersebut. Dan kemajuan pendidikan sangat bergantung pada kualitas pendidik.

*Pendidikan Penguatan Karakter Untuk Kemajuan bangsa disampaikan oleh Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si. (penasihat dewan pendidikan Jawa Timur) pada pengajian guru karyawan SMP Muhammadiyah 5 Surabaya Sabtu, 11 Maret 2017 pukul 20.00-22.00)